Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Himpunan Mahasiswa Pertanian menjadi Jawaban dikala Pertanian Terpuruk

5 min read
Ilustrator : Almas Nurazita Suwarno

Pertanian merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan strategis dalam pengembangan ekonomi nasional. Pertanian menjadi ladang utama pemerintah untuk menyelamatkan perekonomian negara terutama pada saat kondisi pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Dilansir dari Media Indonesia, keseluruhan sektor pertanian tumbuh menjadi 1,75%. Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 diketahui ekspor tanaman obat, aromatik, dan rempah-rempah meningkat secara signifikan seperti yang terjadi pada tahun 2019-2020, ekspor ke India mengalami peningkatan sebanyak 2.055,2 ton. Hal tersebut semakin menunjukkan bahwa pertanian memegang peranan penting bagi suatu negara. Bahkan Xenophon sebagai seorang filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup pada tahun 425-355 SM (Sebelum Masehi) mengatakan,“Agriculture is the mother and nourishes of all other arts decline”. Artinya pertanian merupakan ibu dari segala budaya.

Pertanian juga berperan sebagai penyedia lapangan kerja sekaligus pangan masyarakat. Namun sangat disayangkan, pertanian hingga kini belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Dapat dilihat dari banyaknya permasalahan di pertanian yang belum teratasi dengan baik. Seperti permasalahan yang terjadi pada aspek produksi dan distribusi. “Masalah produksi terkait kapasitas, produktivitas petani, insentif untuk petani, dan data yang tidak akurat sehingga menimbulkan masalah dalam kebijakan impor,” ujar Dody dalam acara media briefing Rapat Koordinasi BI (Bank Indonesia) dengan Pemerintah Pusat dan Daerah di Crowne Plaza Hotel Semarang yang dilansir dari laman Kompas.com. Adapun permasalahan distribusi berkaitan dengan panjangnya rantai tata niaga di pertanian dan pembagian marjin yang tidak adil, sehingga menyebabkan perolehan keuntungan yang sangat sedikit bagi petani.

Selain itu, masih terdapat permasalahan lain yang juga perlu diperhatikan yakni perihal pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang memiliki dampak terhadap pertanian. Dilansir dari Mongabay (Situs Berita Lingkungan), pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang mengakibatkan perubahan dalam pertanian dan lingkungan di Indonesia. Seperti pada pasal 18 ayat 1 UU No.11 Tahun 2020 yang berbunyi, “Pemerintah Pusat menetapkan dan mempertahankan cakupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai, dan/atau pulau guna optimalisasi manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat ekonomi masyarakat setempat”.Secara garis besar hal tersebut telah menghapus dan mengubah Pasal 18 ayat 2 UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan yang berbunyi “Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30% dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional”. Dalam hal ini batasan minimal 30% kawasan hutan dihapus dalam UU Cipta Kerja, dimana akan menjadi sebuah ancaman bagi perlindungan kawasan hutan dan lingkungan pertanian di Indonesia.

Dalam Undang-undang Omnibus Law berisi 11 klaster yang menggabungkan 79 undang-undang yang menyangkut aturan ketenagakerjaan, penyederhanaan perizinan, persyaratan investasi, hingga administrasi pemerintahan. Dengan adanya UU Cipta Kerja akan mempersempit ruang para petani untuk mengejar kesejahteraan. Hal tersebut dikarenakan adanya keharusan untuk memperoleh perizinan usaha dari pemerintah dengan alur yang cukup panjang dan rumit, sedangkan karakteristik petani di indonesia tidak menyukai sesuatu yang terlalu rumit. Perihal tersebut tentu menjadi faktor penghambat bagi petani yang ingin menjalankan usaha pertaniannya. Permasalahan berikutnya yang tidak kalah penting, yaitu rendahnya tingkat pendidikan petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, tingkat pendidikan petani di Indonesia masih didominasi oleh tingkat pendidikan SD (Sekolah Dasar), hal ini ditunjukkan lebih dari 70% petani tidak sekolah atau hanya tamat SD.

Namun dari data dua sensus BPS yang dilakukan pada tahun 2004 dan 2013, terdapat indikasi semakin membaiknya kualitas pendidikan petani. Petani di Indonesia yang tidak menempuh Pendidikan atau hanya sebatas tamat SD telah mengalami pengurangan dari 76,6% pada tahun 2004 menjadi 72,9% pada tahun 2013. Pada periode yang sama petani yang tamat SMP (Sekolah Menengah Pertama) atau SMA (Sekolah Menengah Akhir) telah mengalami peningkatan dari 21,7% menjadi 24,7% yang juga diikuti oleh peningkatan petani yang tamat SMA (Sekolah Menengah Akhir) dari 1,7% menjadi 2,40%. Dengan data tersebut pendidikan petani di Indonesia tetap saja masih jauh dari yang seharusnya. Banyaknya petani yang berpendidikan rendah akan menjadi faktor penghambat dalam upaya peningkatan produktivitas pertanian. Padahal potensi pertanian di Indonesia yang sangat besar jika dikelola oleh SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, maka akan dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

Saat ini pendidikan di Indonesia terutama di perguruan tinggi telah memiliki kualitas pembelajaran yang sangat baik. Salah satu contohnya yakni Fakultas Pertanian di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) telah memberikan bekal ilmu dan pengalaman yang sangat beragam. Mahasiswa pertanian yang ingin mengetahui pertanian secara mendalam, maka dapat bergabung dengan himpunan mahasiswa pertanian. Himpunan mahasiswa pertanian merupakan sebuah wadah dari, oleh, dan untuk mahasiswa pertanian. Himpunan ini dapat berperan penting bagi mahasiswa untuk membantu memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru yang sebelumnya tidak didapatkan dari kegiatan perkuliahan. “Himpunan dapat membantu untuk menampung aspirasi dan mengembangkan jiwa berorganisasi, kita bisa menambah relasi juga menambah pengalaman,” ujar Cindy Nur May Saroh bidang Hubungan Sosial (HubSos) Himpunan Mahasiswa Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Anggota yang tergabung dalam himpunan mahasiswa pertanian akan memiliki tugas dan kewajiban yang diatur oleh AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) masing-masing himpunan. Program kerja himpunanan mahasiswa pertanian bertujuan untuk menyalurkan aspirasi dan kreatifitas mahasiswa pertanian. Salah satu contoh program kerja yang terdapat pada himpunan mahasiswa pertanian, yakni lomba essay pertanian yang secara tidak langsung akan memberikan dampak positif bagi peserta yang mengikutinya. Peserta yang mengikuti lomba essay pertanian secara otomatis akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang dunia pertanian, sehingga wawasannya pun semakin bertambah. Peserta pada akhirnya juga semakin tahu tentang kondisi pertanian di Indonesia. Beragamnya program kerja yang direncanakan pada sebuah himpunan mahasiswa pertanian tentu akan memberikan dampak yang baik bagi pengurus, anggota, dan peserta.

Selain mengadakan sebuah perlombaan, himpunan mahasiswa pertanian juga sering kali mengadakan kegiatan “Bina Desa”. Pada kegiatan tersebut, seluruh petani dari desa tertentu berdiskusi dalam forum dengan narasumber dosen dan ahli pertanian. Hal ini yang akan membantu mahasiswa pertanian lebih dekat dengan petani, sehingga nantinya memiliki kemampuan dalam menangkap realitas yang tengah dialami oleh petani di Indonesia. Bahkan kegiatan tersebut akan melatih kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan sebuah permasalahan, sehingga dapat menghadirkan solusi yang bermanfaat. “Bina desa fungsinya bisa memajukan desa, mengembangkan, menyalurkan informasi. Manfaat bagi peserta bisa tau secara langsung di lapangan gimana, jadi kan kita kalo kita pelajari cuma teori keadaan lapang itu pasti beda banget. Gimana kita berfikir kritis agar desa tersebut ya bisa berkembang teknologi atau gimana cara biar pendapatan bertambah. Jadi kita berfikir ini harus gimana ya, caranya dari teori yang udah kita dapet di kuliah diterapkan,” ujar Alvi Nur Inayati bidang minat bakat Himpunan Mahasiswa Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Terjadinya pandemi Covid-19 juga tidak menyurutkan semangat mahasiswa yang tergabung dalam himpunan mahasiswa pertanian. Mereka berusaha untuk dapat menyesuaikan program kerja yang akan dirancang dengan kondisi yang tengah terjadi. Misalnya saja dengan melakukan terobosan baru berupa perubahan kegiatan seminar yang sebelumnya selalu dilakukan secara offline, kini menjadi kegiatan webinar (web seminar) yang diadakan secara online. Webinar akan diselenggarakan dengan mengusung tema yang menarik dan inovatif. Pembicara yang diundang untuk mengisi kegiatan webinar tentunya juga sangat inspiratif, sehingga program kerja yang dibuat oleh himpunan mahasiswa pertanian akan memberikan dampak positif bagi peserta yang menghadiri kegiatan tersebut terutama bagi mahasiswa pertanian.

Himpunan mahasiswa pertanian telah menjadi salah satu tumpuan harapan untuk dapat meningkatkan human capital di pertanian. Melahirkan mahasiswa pertanian yang berpengalaman dan berwawasan luas, sehingga di masa mendatang dapat menjadi sumber daya manusia pertanian yang adaptif dan inovatif. Maka tidak menutup kemungkinan ke depannya pertanian di Indonesia akan mengalami kemajuan karena memiliki sumber daya manusia pertanian yang berkualitas. Hanya sumber daya manusia pertanian yang berkulitaslah yang akan dapat membantu dalam mengentaskan kompleksitas permasalahan pada pertanian, hingga akhirnya dapat menyejahterakan petani di Indonesia.

Penulis : Almas Nurazita Suwarno

Editor : Safira Ummah dan Nandita Rani N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *