Sun. Jun 23rd, 2024

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Berhenti Bicara Tanah Longsor Hanya Sekedar Takdir

3 min read

“Tentang bumi ini, tentang pohon pisang, tentang rumput liar, tentang capung, dan tentang gunung. Dan tentang kenyataan bahwa semuanya tak seindah dulu” Nostress- Tanam Saja.

Jumat 7 Juli 2023 sehabis waktu dhuhur orang-orang dengan baju putih dan bawahan sarung bergegas keluar masjid menuju parkiran motor. Sarung yang semulanya mereka selempangkan berubah menjadi payung dadakan, dihamparkannya diatas kepala guna melindungi diri dari hujan lebat. Beberapa diantaranya memilih berdiam diri di teras masjid. Mungkin benaknya berharap untuk hujan yang amat lebat ini agar segera reda.


Pemandangan semacam ini sudah bisa diprediksi. Sebab, di hari itu hujan tak kunjung henti, jeda sebentar. Namun jatuh lagi dan terus bersambung sedari pagi. Tak lama kemudian aku memutuskan untuk membuka telpon selulerku, di sosial media orang-oang mulai ramai membicarakan perihal bencana longsor dan banjir yang mulai bermunculan pada beberapa titik di daerah tapal kuda, Jawa Timur. Warganet saling unggah video dan foto berisikan doa harap agar sanak keluarga mereka tetap diberi keselamatan dimanapun berada ditengah cuaca ekstrem yang terjadi. Diantara media yang terunggah tersebut salah satunya adalah bencana longsor yang mengakibatkan sebanyak tiga warga meninggal dunia. Dilansir dari bnpb.go.id peristiwa tersebut terjadi di Dusun Sriti, Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Jumat (7/7) dini hari. 


Video dan foto yang bertebaran di media sosial tersebut bersamaan dengan beredarnya Press Release yang diterbitkan oleh badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika lewat surat no. B/ME.P204/017/KSUB/VII/2023 perihal kewaspadaan terhadap cuaca ekstreem akibat gangguan atmosfer. Didalamnya berisikan himbauan peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi bencana hidrometeorologi lewat potensi peningkatan awan cumulonimbus pada periode 07-13 Juli 2023.


Sembari menunggu hujan reda, benakku bertanya tanya tentang apa yang sedang terjadi dengan alam, awan yang mengerikan, dan bencana yang sedang melanda sekitar. Kuputuskan membuka mesin pencari untuk sekedar membaca-baca.


Beberapa hal mulai aku pahami. Peningkatan awan cumulonimbus secara teknis akan sangat mungkin terjadi pada daerah dengan curah hujan yang tinggi. Sejalan dengan pernyataan dalam jurnal penelitian yang diterbitkan pada tahun 2022 oleh Newton-Maxwell Journal Physic menerangkan bahwa Awan cumulonimbus merupakan jenis awan berbahaya yang dapat menimbulkan cuaca ekstrim seperti hujan deras, kilat dan guruh. Pada daerah dengan dataran tinggi yang berlereng seperti desa Ranupani. Dimana pada daerah tersebut potensi longsor akan sangat besar akibat terkikisnya tanah oleh splass yang dihasilkan dari gumpalan air hujan yang jatuh pada permukaan lereng.


Apalagi Menurut klasifikasi tingkat bahaya erosi dengan menggunakan metode Resistivity pada daerah Ranu Pani yang merupakan daerah dengan tingkat bahaya erosi sangat berbahaya, karena nilai aliran debris lebih dari 180 ton/tahun. Setidaknya itulah yang aku tahu jika mencoba menghitung Tingkat Bahaya Erosi Desa Ranupani ketika praktikum pada semester lalu
Dengan tingginya aliran debris erosi, dapat menyebabkan sedimentasi terhadap Danau Ranu Pani juga semakin tinggi, karena Danau Ranu Pani menampung sebagian besar aliran debris erosi perbukitan yang ada di sekitarnya. Serangkaian peristiwa tersebut tidak hanya membahayakan desa Ranupani saja. Namun juga membahayakan wilayah dibawahnya. Air yang mengalir dari daerah perbukitan bukan tidak mungkin akan mengundang banjir bandang pada daerah Lumajang kota.


Kondisi ini seharusnya bisa diatasi dengan kuatnya perakaran yang menancap kedalam tanah untuk menahan sedimentasi tanah terbawa oleh air yang jatuh. Namun kenyataannya. Pohon-pohon itu tumbang ditebang oleh Perhutani. Melalui potretmedia.com pada tahun 2022 penebangan hutan di Desa Burno bertubi tubi dilakukan tepatnya tepi jalan menuju RanuPane. Penebangan tersebut dilakukan secara masif oleh Perhutani yang ditengarai mengabaikan fungsi ekologi.


Sekalipun saat itu berada pada musim penghujan, Perhutani terus melakukan penebangan hutan damar di petak 14H Desa Burno Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang Jawa Timur.
Bagi perhutani penebangan yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedural yang rencananya sudah menggema diberitakan media nasional dalam kurun waktu 3 tahun terahir. Menurut Asper Perhutani, Lesmana mengatakan bahwa nantinya kayu damar yang ditebang akan dihijaukan kembali “InsyaAllah akan ditanami kembali. Lewat sistem silvakultur Perhutani, tebang habis permudaan buatan.” Ungkapnya saat dikonfirmasi momentum.com. Namun pada kenyataannya Perhutani belum pernah berhasil dalam proses reboisasi hutan di desa Burno berdasarkan rekam jejak yang diamati oleh Lembaga Masyarakat Hutan Desa (LMHD) Wono Lestari Desa Burno.


Relasi ekologis antara hutan dan bencana mengingatkanku pada buku-buku semasa kecil. Buku-buku yang mengilustrasikan penebangan pohon di hutan sebagai sebuah tindak kejahatan. Mengantarkanku pada khayalan akan sebuah kondisi yang takkan pernah terjadi dimana ketika pohon-pohon hutan menjadi lebat, Ketika sungai kembali jernih dengan ikan-ikannya yang beragam, bukit-bukit kembali menjulang, kentang, sawi, selada, brokoli dan kawan-kawannya tertanam mesra di pekarangan belakang rumah, perhutani berhenti memebangi hutan Desa Burno. Sebuah kondisi dimana orang-orang itu mulai sadar bahwa itulah yang sebenarnya mereka butuhkan. Sebuah kondisi yang membuat mereka sadar bahwa uang takkan bisa mereka makan.

Penulis : M. ‘Ubaidillah I.

Editor : Shela Rosania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *