Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Daerah Mandiri Melalui Konsep Pertanian Urban Terintegrasi pada Era New Normal

4 min read

Upaya preventif new normal mengubah segala kegiatan menjadi serba baru dan memberikan dampak terhadap segala sektor khususnya di perkotaan, antara lain sektor ekonomi dan pertanian. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Baldwin dan Mauro dari CPER Press  yang menyatakan bahwa pergerakan konsumen semakin jarang untuk keluar rumah, sehingga frekuensi transaksi akan relatif lebih rendah dan tingkat konsumsi menjadi menurun. Hal ini tentu menyebabkan guncangan ekonomi dan ketahanan pangan yang semakin terancam. Guncangan ekonomi yang terjadi akibat Covid-19 mempengaruhi sisi penawaran (supply side shock) dan sisi permintaan (demand side shock) komoditas pertanian.

Sektor pertanian memiliki peran yang vital untuk mendongkrak perekonomian Indonesia dan menjaga ketahanan pangan di Indonesia. Dilansir dari mediaindonesia.com selama masa pandemi produktivitas pertanian di Indonesia belum menunjukkan dampak yang bagus untuk menunjang peningkatan pendapatan masyarakat. Salah satu masalah krusial yang berkaitan dengan hal tersebut yaitu banyaknya alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian. Sehingga, masyarakat tidak memiliki fasilitas yang memadai dalam melakukan kegiatan produksi pertanian. Diperlukan penerapan konsep pertanian yang sesuai dengan keadaan, kebutuhan dan dapat diimplementasikan dengan mudah oleh masyarakat di suatu daerah dengan memanfaatkan lahan sempit pasca pandemi Covid-19.

Dalam mengatasi berbagai masalah di atas, terdapat beberapa solusi yaitu dengan konsep pertanian urban terintegrasi berbasis masyarakat. Konsep pertanian urban terintegrasi berbasis masyarakat adalah konsep sistem produksi pertanian terpadu yang bersifat visioner dan berorientasi ekologis untuk pembangunan berkelanjutan sebagai upaya penanganan masalah ketahanan pangan pasca pandemi Covid-19. Dilansir dari www.pertanian.go.id, konsep ini melibatkan seluruh masyarakat dalam suatu daerah untuk menciptakan suatu sistem berkelanjutan yang dapat mengatasi krisis pangan. Hal ini sekaligus menyiasati minimnya lahan di daerah perkotaan sehingga diperoleh ketahanan pangan, peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi. Selain untuk mendukung ketahanan pangan di perkotaan, urban farming juga bertujuan untuk meningkatkan pendapatan.

Konsep yang diterapkan dalam gagasan ini yaitu dibangunnya suatu daerah di perkotaan sebagai daerah yang memanfaatkan seluruh lahan sempitnya sebagai ruang yang dapat dimanfaatkan dengan maksimal guna menjaga ketahanan pangan, selain pertanian konsep ini juga mencakup peternakan, perikanan, dan hortikultura. Penerapan gagasan ini diletakkan di tengah kota dengan pertimbangan sebagai wujud pertanian yang berkelanjutan. Konsep ini dilaksanakan dengan setiap keluarga melakukan kegiatan yang berbeda. Misalkan keluarga A menanam cabai, keluarga B menanam mentimun, keluarga C budidaya ikan, keluarga D budidaya ayam. Nantinya seluruh komoditas yang dihasilkan akan disetorkan ke koperasi pangan daerah yang bertugas menghimpun hasil komoditas dan memfasilitasi para masyarakat yang menerapkan konsep ini. Selanjutnya koperasi pangan daerah menjual komoditas tersebut dengan harga yang terjangkau kepada masyarakat daerah tersebut. Solusi ini tentu akan menyebabkan sistem yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif jangka panjang serta menjawab berbagai masalah yang masih memiliki keterkaitan, misalnya krisis lapangan pekerjaan, memperpendek proses distribusi sehingga kebutuhan dapat terpenuhi, dapat meningkatkan akses ekonomi rumah tangga melalui pendapatan rumah tangga dan mengatasi krisis pangan di tengah kota pada masa dan pasca pandemi Covid-19.

Sebelum dilakukan pelaksanaan konsep ini pada suatu wilayah, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi dan pelatihan secara berkala terkait dengan metode dan teknis pelaksanaan. Pada sektor pertanian dapat menggunakan metode vertikultur yang berbahan dasar paralon yang menggunakan satu paralon lalu dilubangi secara vertikal dan diisi dengan tanaman yang memiliki perakaran pendek dan siklus umur yang pendek juga seperti sayuran sawi, pakcoi, dan kangkung, seperti yang dikemukakan oleh salah satu dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, yaitu Ir. Endah Murniningtyas M.Sc. Phd. Selain itu dapat menggunakan metode hidroponik yaitu budidaya dengan memanfaatkan air sebagai media tanam atau soiless. Pada budidaya ikan dapat menggunakan metode Budidaya Ikan Dalam Ember (BUDIKDAMBER) dimana dilakukan pembudidayaan ikan dan sayur yang dipadukan dengan sistem aquaponik.

Permasalahan lain timbul yaitu terkait dengan limbah. Konsep pertanian urban terintegrasi berbasis masyarakat mengantisipasi hal ini dengan menggunakan limbah dari suatu sektor yang digunakan kembali sebagai bahan dasar pada sektor lainnya. Contoh sederhananya adalah limbah dari sektor peternakan yang digunakan kembali sebagai pupuk untuk digunakan pada sektor pertanian. Adapun timbal balik dari sektor pertanian dapat melalui dedak padi yang digunakan untuk pakan ternak. Intinya, seluruh materi pada sektor-sektor tersebut terus bersiklus dalam sistem, muncul sebagai waste pada suatu sektor lalu dialihkan dan digunakan pada sektor lainnya. Dilansir dari pqm.co.id jika ditinjau dari segi lingkungan, sistem ini memiliki konsep zero waste, konsep yang menekan jumlah produksi sampah yang tentu memiliki dampak baik terhadap lingkungan. Adapun dari segi ekonomi, sistem ini memiliki konsep cost reduction, yaitu modal menjadi lebih rendah dari pendapatan.

Konsep sistem pertanian terpadu yang bersifat visioner untuk pembangunan berkelanjutan baik secara ekologi, ekonomi, sosial budaya dan efektif dalam mengatasi masalah ketahanan pangan sebagai upaya menuju Indonesia berdaulat pangan pasca pandemi. Konsep ini melibatkan seluruh masyarakat dalam suatu daerah untuk mencipatakan suatu sistem berkelanjutan yang dapat mengatasi krisis pangan serta menyiasati minimnya lahan sehingga ketahanan pangan dapat terlaksana. Selain pertanian konsep ini juga mencakup peternakan, perikanan dan hortikultura. Penerapan konsep ini dapat menciptakan desa yang mandiri akibat kebutuhan yang tercakup tanpa bergantung pada daerah lain dan dapat menjaga ketahanan pangan secara stabil sekaligus mempercepat pembangunan Indonesia pasca pandemi, dan dapat dijadikan solusi konkret atas permasalahan ekonomi dan krisis pangan sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang berdaulat dan mandiri pangan.

Penulis : Anggreini Maya Lestari

Editor : Erlita Diah Salsahbila, Arki Vanesaputri dan M. Gazza Daffa V.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *