Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

PUTAR OTAK DIKALA PANDEMI COVID-19

4 min read

(CORONA VIRUS DISEASE 2019)

Ilustrator : Aldira Rahmania

Pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang melanda masyarakat dunia telah memberikan tantangan besar bagi kita semua, apalagi dengan kondisi kita saat ini yang sedang memasuki era globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin hype. Teknologi yang semakin hype sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk membantu dalam memajukan sektor pertanian. Peralatan teknologi pertanian yang kini semakin canggih bakal mempermudah pekerjaan petani mulai dari prapanen sampai pasca panen. Misalnya saja teknologi mesin penanam padi, mesin itu cocok digunakan pada skala usahatani yang besar karena bisa meringankan pekerjaan petani sekaligus menurunkan biaya tenaga kerja.

Teknologi pertanian akan memberikan dampak positif jika gunakan secara optimal. Seperti pada jurnal yang berjudul “Monitoring Curah Hujan dan Kelengasan Tanah Lahan Pertanian menggunakan Sensor Berbasis Internet Of Things (IoT) sebagai Dasar Pertanian Presisi” yang terbit pada tahun 2021 oleh Royhan Saydi mahasiswa di Universitas Jember yang menyebutkan bahwa, “Monitoring dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi pada kondisi lahan tertentu, yang tujuannya meminimalkan risiko gagal panen dan dapat meningkatkan produktivitas tanaman”.Ehh sayangnya, penggunaan teknologi pertanian sampai sekarang masih terkendala oleh faktor sumberdaya manusia dan faktor biaya. Pandemi Covid-19 juga menambah daftar list faktor-faktor yang menjadi penghambat petani dalam mewujudkan penggunaan teknologi pertanian yang canggih.

Permasalahan lain yang tidak kunjung selesai adalah permasalahan menurunnya harga gabah saat musim panen raya, ditambah lagi adanya isu yang berhembus perihal impor beras oleh pemerintah. Penurunan harga gabah dan isu mengenai impor beras telah menjadi keresahan warga yang kembali terjadi pada saat pandemi Covid-19. Dilansir dari Johan Rosidan dalam tulisannya pada web dpr.go.id menyampaikan rasa prihatin dengan anjloknya harga gabah di tingkat penggilingan dan petani. Bahkan pada bulan April 2021 lalu harga gabah mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir. So, sudah pasti kita membutuhkan kebijakan pemerintah yang bisa menjaga stabilitas harga gabah supaya petani ga lagi mengalami kerugian ketika panen raya tiba. 

Untungnya kali ini pemerintah sudah mulai ngasih bantuan ke petani seperti yang dijelaskan pada jurnal “Strategi Pemulihan Sektor Pertanian dan Pengembangan Sumber Pangan dalam Meningkatkan Perekonomian di Masa Pandemi” yang terbit pada tahun 2021 oleh Mika Rahmadhiyanti dosen di Universitas Pelita Bangsa menyebutkan bahwa, dengan peran pertanian yang berhubungan dengan ekonomi serta pembangunan nasional dan mencegah krisis pangan nasional, pemerintah mengembangkan berbagai inovasi dan teknologi dengan memberikan bantuan kepada para petani untuk dapat memudahkan mekanisme pertanian dan diharapkan disemua aktivitas kegiatan pertanian lebih efektif dan efisien, serta memastikan ketersediaan pasokan pangan pokok dan kebutuhan pangan lainnya tercukupi, harga stabil di pasaran, serta tidak adanya masalah distribusi pada beberapa wilayah.

Sosialisasi percepatan teknologi di sektor pertanian harusnya sih juga makin digencarkan oleh pemerintah, supaya petani kita bisa melakukan pengelolaan pertanian yang adaptif dan inovatif. Jangan sampai adanya pandemi Covid-19 terus-menerus menghambat petani dalam mewujudkan penggunaan teknologi di sektor pertanian. Justru sebaliknya, percepatan teknologi di sektor pertanian dapat menjadi suatu inovasi yang berkelanjutan, sehingga diharapkan bisa menjadi upaya dalam menjawab tantangan ketahanan pangan di masa pandemi Covid-19.

Kemampuan beradaptasi dan berinovasi emang wajib banget dimiliki oleh petani saat ini, terutama bagi mereka yang sedang terdampak pandemi Covid19. Petani perlu putar otak supaya bisa terus menyambung kelangsungan hidupnya. Nah akhir-akhir ini, sudah banyak petani yang mulai beralih ke usaha lain.Tujuannya sih untuk cari tambahan cuan daripada rugi mulu yakann. Diantara mereka sudah banyak nih yang mulai menekuni dunia bisnis, hasil pertaniannya pun mulai dijual dalam bentuk produk olahan setengah jadi maupun produk jadi.

Bahkan untuk mengatasi rasa galau akibat mengalami kerugian dalam penjualan hasil panen, plus lamanya menungu kebijakan pemerintah yang tak kunjung datang. Petani kini mulai memanfaatkan peluang usaha yang ada di masa pandemi Covid-19. Misalnya saja dengan menanam tanaman obat seperti, jahe, kunyit, kunir, kumis kucing, temulawak dan berbagai tanaman obat lainnya yang tentunya saat ini sangat dicari dan dibutuhkan. Selain tanaman obat, petani juga bisa menanam tanaman hias untuk bisnis dan tanaman rempah untuk dikonsumsi sendiri. Perubahan komoditas pertanian yang ditanam oleh petani dari tanaman pangan menjadi tanaman obat akan membantu petani dalam melangsungkan usaha tani nya. Sebab, dengan modal yang kecil petani sudah bisa meraup keuntungan yang besar dari penjualan tanaman obat.

Pemerintah kali ini juga harus bisa membantu dalam mempercepat penerapan teknologi digital dalam sektor pertanian. Pemanfaatan teknologi digital akan membantu petani dalam menyukseskan usahatani tanaman obat maupun usahatani lainnya. Misalnya saja dengan memanfaatkan platform digital dan media sosial seperti, instagram, facebook, whatsapp dan memanfaatkan iklan youtube yang nantinya akan memperluas pangsa pasar petani kita. Selain itu, teknologi digital akan membantu mengurangi ketergantungan petani dengan tengkulak. Lah kok bisa? Ya bisa dong, karena dengan teknologi digital maka petani bakal terhubung langsung dengan konsumen, bahkan yang lebih mantul nya lagi nih petani dengan mudahnya dapat memperoleh informasi harga komoditas pertanian. Jadi peristiwa kerugian yang dialami petani bisa diminimalisir.

Kemudian dilansir dari laman Antaranews.com, Indra Setiawan sebagai Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyarankan agar Kementerian Pertanian dan kementerian lain yang relevan perlu segera menyusun proyek-proyek nasional mengenai pengenalan teknologi digital pertanian. Kementan dapat melakukan perluasan cakupan kerjasama dengan pihak swasta untuk melakukan penetrasi di area lain.

Pandemi Covid-19 memang terbukti menjadi tantangan besar bagi kita semua. Oleh karena itu, biar bisa tetap survive kita dituntut untuk dapat putar otak dalam menghadapi setiap tantangan besar yang terjadi di masa pandemi Covid-19. Sektor pertanian yang menjadi salah satu sektor terdampak pandemi juga harus mulai bisa menepis segala rintangan yang menghadang, sehingga meskipun dalam kondisi sulit seperti saat ini petani kita tetap bisa mewujudkan apa yang telah dicita-citakan sebelumnya. Sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada petani kita, karena sektor pertanian lah yang menjadi tumpuan di kala masa pandemi Covid-19 melanda. Saling bersinergi menjadi kunci dalam mewujudkan mimpi. Kemajuan sektor pertanian menjadi harapan bersama, sehingga jangan sampai adanya pandemi Covid-19 justru melemahkan petani kita. Mari saling membantu mensejahterakan petani sebagai aktor utama dalam pembangunan pertanian. Guna mewujudkan pertanian yang maju dan sejahtera untuk masyarakat.

Penulis & Ilustrator : Aldira Rahmania

Editor : Safira Ummah & Nandita Rani Nareswari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *