Thu. Sep 29th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Pandemi Belum Selesai, Kapan Petani Mendapat Perhatian?

4 min read

Pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) saat ini menjadi persoalan baru dalam lingkup pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Hadirnya pandemi Covid-19 yang telah mewabah selama lebih dari satu tahun ini sedikit memberi keresahan akan kondisi kesehatan masyarakat. Angka sebaran virus Corona di Indonesia sempat mengalami kenaikan yang mengakibatkan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang sampai saat ini masih terus diperpanjang. Dilansir dari situs covid19.go.id,  pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen) bertambah sebanyak 130 kasus dan kumulatif, atau jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga 6 Desember 2021 mencapai 4.257.815 kasus.

Situasi pandemi menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi petani dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Adanya pembatasan kegiatan dari pemerintah menyebabkan angka penjualan yang rendah, namun kebutuhan pangannya semakin meningkat. Petani yang memasok hasil panennya di restoran dan hotel mengeluh dengan adanya penurunan permintaan konsumen. Tentunya hal tersebut menjadi hambatan dalam proses produksi petani. Seperti yang dialami oleh seorang petani hidroponik di Kabupaten Jember, dimana ia kini hanya berfokus pada beberapa mitranya saja dan memberhentikan penambahan mitra baru untuk bekerja sama. Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan permintaan dari hotel dan restoran yang dipasok dalam pemenuhan kebutuhan sayurnya. Dilansir pada studi kasus yang dilakukan oleh A’dani dkk dalam jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, adanya Covid-19 berdampak pada sektor pertanian yang berpengaruh besar terhadap pendapatan petani di Desa Palem Kecamatan Gabus Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.

Situasi pandemi tidak hanya menjadi tantangan bagi petani, namun juga bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan bergizi. Adanya pandemi mengharuskan masyarakat untuk mampu mempertahankan kondisi imun mereka, dan salah satu caranya adalah mengonsumsi makanan bergizi. Makanan bergizi dapat dicukupi dengan konsumi buah dan sayur segar yang tentunya dihasilkan oleh petani. Namun kembali lagi dengan adanya program pemerintah yang menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat, masyarakat mengalami kesusahan untuk mendapatkan makanan yang bernilai gizi tinggi. Adanya aturan baru yakni Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Masa Nataru (Natal dan Tahun Baru) berlaku selama 24 Desember 2021 – 2 Januari 2022 seolah menutup portal untuk masyarakat memanfaatkan supermarket untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Sayuran segar dan berkualitas dijajakan di sana, tapi lagi-lagi anjuran pemerintah membuat mereka kesusahan untuk memasuki areal supermarket guna membeli sayur mayur sebagai bahan pangan mereka karena terdapat pemberlakuan aturan wajib yang harus dipatuhi masyarakat. Dilansir pada detikNews, pusat perbelanjaan, restoran, bioskop dan tempat wisata diperbolehkan beroperasi dengan ketentuan: a. Kapasitas maksimal 75 persen, b. Hanya pengunjung kategori hijau di aplikasi Peduli Lindungi yang diperbolehkan. Hal itulah yang menjadi keresahan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya di masa pandemi Covid-19 yang entah akan berlangsung sampai kapan ini.

Jika sudah seperti ini, rasanya pandemi Covid-19 tidak hanya memberikan keresahan perihal penyakit yang ditimbulkan saja, namun juga menjalar pada sektor kehidupan lainnya. Pertanian yang seharusnya menjadi penopang hidup masyarakat kini mengalami masalah yang menyebabkan petani harus berusaha lebih keras dalam memasarkan hasil panennya, di sisi lain masyarakat sebenarnya membutuhkan hasil panen petani, namun rasanya sedang dipenjara oleh aturan-aturan yang menyebabkan mereka takut untuk meninggalkan benteng perlindungannya. Pada akhirnya petani memilih untuk bertahan dengan mengurangi jumlah produksi, dan mulai menerima permintaan dalam skala kecil untuk menghabiskan hasil panennya.

Seperti yang dilakukan oleh petani hidroponik di Kabupaten Jember yang tak ingin disebutkan namanya, beliau kini melayani penjualan ecer bagi konsumen yang ingin membeli hasil panen sayurannya secara satuan. Petani yang dapat dikatakan petani modern itu juga kerap kali membagikan pengetahuannya tentang budidaya hidroponik kepada masyarakat dan mengajak masyarakat untuk menjadi mitranya. Meski saat ini sedang vacum melakukan penambahan mitra, namun beliau juga tidak menghentikan kontrak kerja dengan mitra-mitra yang sudah bekerja sama. Beliau beranggapan salah satu cara untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya adalah melalui pertanian. Setidaknya selain hasilnya nanti akan dijual, juga dapat dipanen untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sendiri. Tidak hanya menjual hasil panen saja, beliau juga menyediakan benih dan nutrisi yang dijual untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin melakukan budidaya hidroponik secara mandiri.

Semangat petani untuk menghidupkan pertanian serta memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sangatlah tinggi. Bagi petani hal tersebut menjadi tanggung jawab mereka untuk tetap memberi fasilitas hidup masyarakat, yaitu dengan mencukupi kebutuhan nutrisi mereka. Makanan bergizi hasil dari panennya tentu sangat berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh masyarakat. Hasil panen petani sudah seharusnya dimanfaatkan dengan baik sebagai upaya menjaga kesehatan tubuh masyarakat, namun dengan pembatasan yang ada saat ini, apakah dipermudah? Supermarket tempat membeli segala kebutuhan hidup masyarakat malah dibatasi waktu bukanya dengan alasan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Masa Nataru. Pembatasan kegiatan yang sampai saat ini terus diperpanjang seakan memberi tembok penghalang antara petani dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Jadi, sebenernya mau diajak survive atau dijatuhkan secara pelan-pelan sih?

 Mau udah vaksin pun kalau pola makan tidak diatur, ya sama saja kibul. Coba deh pasok bahan pangan dilancarkan, petani diberi akses lebih untuk menjamah masyarakat. Bukan cuma petaninya yang sejahtera, masyarakatnya pun juga ikut tercukupi kebutuhan nutrisinya, sama-sama bahagia, bukan? Cukup penyakit yang meresahkan masyarakat dengan hadirnya wabah Covid-19 ini, jangan sampai pertanian yang menjadi penopang hidup masyarakat juga harus diresahkan dengan kehadiran virus yang entah sampai kapan akan merajalela. Sampai kapan pun manusia akan butuh makan, dan pertanian tidak akan mengenal kata punah. Namun demikian, petani butuh dukungan untuk menghidupkan pertanian agar tetap berjaya. Ya seenggaknya dibantu gitu untuk distribusi hasil panennya, toh ya petinggi juga ikut makan, kan?Betapa indahnya jika petinggi dapat turun tangan membantu petani. Minimal kasih kesempatan petani memasarkan hasil panenya di pasar, dan sedikit waktu luang untuk masyarakat yang mau membeli sayur mayurnya. Biar saling ngasih bahagia aja sih kita.

Penulis & Ilustrator : Almira Prindari

Editor : Ahlan Anwari, Safira Ummah, Firanny Tri S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *