Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

PEREMPUAN TANI DI PUSARAN BUDAYA PATRIARKI

5 min read

Ilustrator : Pengurus Plantarum

Sadar nggak sih kalau selama ini perempuan sebagai makhluk “syantik” selalu dilihat sebatas keindahan fisiknya saja? Padahal nih ya, perempuan punya potensi yang luar biasa, tapi malah sering dipandang sebelah mata. Bahkan dalam kehidupannya, perempuan tuh lebih dikenal dengan peranan 3M (Masak, Macak, Manak), jadi ya nggak bakal jauh-jauh dari kasur, dapur, sumur (domestik).  Sekalinya mau ambil peran di publik malah sering diperlakukan nggak adil, sungguh terlalu!! Sebenarnya sih, hal itu bisa terjadi karena ada pengaruh budaya patriarki. Pengertian budaya patriarki bisa kita temui pada buku bertajuk Pengantar Gender dan Feminsime karya Alfian Rokhmansyah yang terbit pada tahun 2016, di buku tersebut dituliskan bahwa, “Budaya patriarki merupakan budaya yang dibangun atas dasar hierarki dominasi dan subordinasi yang mengharuskan laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi satu norma.” Patriarki akhirnya bisamemunculkan anggapan kalau laki-laki lebih berkuasa dibanding perempuan, sampai-sampai sistem itu pun mendominasi kebudayaan masyarakat kita. Jadi ya nggak kaget kalau nantinya perempuan bakal dimarginalkan atau bahkan didiskriminasi. Nah, hal itu tuh yang juga dirasakan oleh perempuan tani yang selama ini emang udah ada di pusaran budaya patriarki.

Bagi perempuan tani, mendapatkan beban ganda sudah menjadi hal yang biasa. Mengurus keperluan rumah ditambah bertani di sawah, sudah nggak jadi masalah. Semua itu dilakukan demi membantu perekonomian keluarga. Tapi sangat disayangkan, hak-hak perempuan tani hingga kini terkadang masih kurang terpenuhi. Perempuan Tani yang didewasakan oleh keadaan udah jadi sosok yang kuat, sekuat tanaman dalam menahan serangan hama. Nggak percaya? sini aku tunjukin! Pertama, peran dan posisi perempuan tani masih saja dianggap berada di bawah laki-laki, sehingga menyebabkan terjadinya ketimpangan gender dalam hal akses dan kontrol pada sumber daya nafkah. Misalnya aja nih ya dalam hal mengakses sumber daya nafkah berupa aset fisik yakni lahan pertanian, nah kebanyakan lahan pertanian itudikuasai oleh kaum laki-laki yang merupakan kepala rumah tangga.

Posisi perempuan dalam rumah tangga selama ini hanya dianggap sebagai orang kedua setelah laki-laki, maka dari itu buat ngewujudin konsep kesetaraan dalam rumah tangga ya bakal susah banget sih. Oh ya, perempuan tani juga kesulitan dalam mengontrol penggunaan lahan pertanian, karena semua keputusan terkait penggunaan lahan berada di tangan laki-laki. Jarang banget perempuan tani dilibatin dalam pengambilan keputusan. Akhirnya ya laki-laki yang memegang kendali dalam penggunaan lahan. Seperti pada jurnal “Pengaruh Ketimpangan Gender terhadap Strategi Bertahan Hidup Rumah Tangga Buruh Tani Miskin di Desa Cikarawang” terbit pada tahun 2013 yang ditulis oleh Septiadi dan Wigna dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB (Institut Pertanian Bogor), dituliskan bahwa, “Sebagian besar pengambilan keputusan terkait penggunaan lahan pada rumah tangga lebih banyak ditentukan oleh laki-laki sekalipun lahan tersebut merupakan hasil warisan yang dibawa oleh anggota rumah tangga perempuan.” Sampai sini sudah paham kan? Budaya patriarki dalang dibalik semua itu. Menyebabkan munculnya pemikiran bahwa laki-laki lah yang paling kuat dan berdaya fikir objektif, sehingga lebih pantas dalam memainkan peran kontrol dalam rumah tangga.

Kedua, sistem pengupahan perempuan tani yang masih jauh banget dari kata adil, karena lagi-lagi ketimpangan dan ketidakadilan gender itu masih sering terjadi. Bias gender di sektor pertanian membuat peran perempuan tani terlihat kurang maksimal, sedangkan laki-laki perannya terlihat lebih menonjol. Ya gimana nggak lebih menonjol, wong kesempatannya lebih banyak diberikan ke laki-laki, eh sedangkan perempuan lebih banyak dibatasi. Perempuan tani akhirnya cuma jadi orang yang terpinggirkan, terpojokkan, termenyedihkan dalam sektor produksi.

Pastinya yang bakal dirugiin ya perempuan tani. Hal ini diperkuat oleh tulisan Setiawan dari IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Purwekerto dalam jurnal “Konstruksi Sosial Pembagian Kerja dan Pengupahan Buruh Tani,” yang terbit pada tahun 2017, ia menjelaskan bahwa diskriminasi perempuan tani dalam pekerjaan bakal menyebabkan terjadinya perbedaan upah dimana upah yang lebih besar tentu didapatkan oleh laki-laki. Padahal nih ya, perempuan tani banyak berperan lohh dalam pembangunan pertanian karena mereka juga turut bekerja dalam beberapa aspek produksi, pasca panen, distribusi pangan, dan konsumsi. Bahkan sebelum berangkat ke sawah, perempuan tani juga harus menyelesaikan pekerjaan domestik sehingga harus bangun lebih pagi dari anggota keluarga lainnya. Dan yang juga perlu diingat, perempuan tani memegang peranan penting dalam perekonomian keluarga. Tanpa pengorbanan perempuan tani, kebutuhan keluarga ya masih belum bisa tercukupi.

Emang sih untuk saat ini upaya penghapusan bentuk diskriminasi lagi digencarkan, tapi ya tetap aja praktik diskriminasi pengupahan bakal kita temui. Pada kenyataannya, perempuan tani mau bagaimanapun cuma bakal dikasih akses untuk pekerjaan “marginal” yang upahnya lebih rendah dari laki-laki. Hmm, sabar ya bund. Sudah seharusnya pemerintah selain ngebuat kebijakan pembangunan ekonomi juga ngebuat kebijakan-kebijakan sosial yang bakal ngedukung kesetaraan gender di pasar tenaga kerja. Jadi seenggaknya, tekanan sosial karena adanya pandangan masyarakat yang membedakan kedudukan antara laki-laki dan perempuan bisa diperkecil.

Parahnya lagi nih ya, diskriminasi pengupahan ternyata emang paling banyak terjadi di sektor pertanian. Biar makin percaya, aku bakal ngasih bukti yang diambil dari data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik tahun 2016, terkait Statistik Gender-Potret Ketimpangan Gender dalam Ekonomi, di situ ditunjukan bahwa terjadi kesenjangan upah antargender menurut lapangan pekerjaan di tahun 2011-2015 yang bisa banget dilihat di grafik bawah ini:

Sumber : Sakernas, Agustus 2011-2015

Sudah jelas kan, kalau sektor pertanian emang yang paling parah beut sih dalam hal kesenjangan upah antargender, kalian bisa lihat tuh di tahun 2015 benar-benar terjadi peningkatan kesenjangan upah antargender secara signifikan. Hmm, belum berakhir di situ masih ada lagi nih masalah yang terjadi akibat pengaruh budaya patriarki di sektor pertanian. Hayuk kita lanjutkan.

Ketiga, perempuan tani masih kesulitan dalam mengakses informasi modal maupun sarana dan prasarana usaha tani atau juga teknologi. Karena kebanyakan yang diundang dalam acara penyampaian informasi terkait paket teknologi mayoritas adalah laki-laki, jadi informasinya ya bakal disampaikan ke mereka aja. Ya apa lah arti penting kehadiran perempuan, nggak ada mereka nggak masalahkan? Nah ternyata hal itu emang benar terjadi, seperti hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2020 oleh salah seorang sarjana pertanian Strata-1 (S1) Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember yakni Hidayati yang mana ia menyatakan, “Memang perempuan tani mengaku bahwa akses kontrol terhadap teknologi yang lebih canggih itu mayoritas dilakukan oleh laki-laki.”

Lebih lanjut, Hidayati memiliki anggapan kalau sebenarnya budaya patriarki itu lah yang akhirnya memunculkan dominansi laki-laki, sehingga akses kontrol terhadap teknologi canggih seperti, traktor, rice transplanter, serta teknik pengaplikasian pestisida dan obat-obatan pertanian hanya diperuntukan bagi laki-laki. Wah istimewa sekali ya. Selain itu, keterbatasan informasi juga udah ngebuat perempuan tani kesulitan dalam mengajukan anggaran atau modal usaha tani, ya karena kebanyakan dari mereka nggak tahu tata cara pengajuannya. Jadi dari semua masalah itu, yakin masih mau menganggap remeh-temeh pengaruh budaya patriarki di sektor pertanian? sudah saatnya kita semua saling membatu mengatasi persoalan-persoalan itu.

Hal yang perlu dilakukan, yakni meningkatkan human capital perempuan tani supaya kesenjangan upah bisa diturunkan. Senada nih sama yang disampaikan oleh Hidayati yang juga merupakan seorang aktivis perempuan, “Solusi yang mungkin bisa kita lakukan adalah edukasi tentang gender, ketimpangan gender, ketidakadilan gender, budaya patriaki, dan bagaimana cara untuk mengatasinya.” Ia berkeyakinan kuat kalau edukasi bisa merubah dan memperbaiki apa yang udah terjadi saat ini dan yang bakal terjadi di masa mendatang, karena pengetahuan dapat diwariskan ke generasi berikutnya, sehingga pengaruh budaya patriaki pun nantinya bisa diperkecil. Terus nih ya, akses perempuan tani terhadap informasi permodalan maupun sarana dan prasarana juga harus benar-benar ditingkatkan, hak-hak tradisional perempuan pun dalam memanfaatkan sumber daya alam pertanian juga jangan sampai dihilangkan. Terakhir, setiap menyusun kebijakan atau program di sektor pertanian udah seharusnya dikaji dari sudut pandang gender terlebih dahulu, biar ujung-ujungnya nggak merugikanperempuan tani kita.

Penulis : Safira Ummah

Ilustrator : Pengurus Plantarum

Editor : Erlita Diah Salsahbila dan Nandita Rani N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *