Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Nuansa Mahasiswa Fakultas Pertanian OTW (On The Way) Semester Akhir

4 min read
Ilustrator : Zul Fauzi Nugroho H

Aduh, gimana nih draft proposal belum selesai ditambah lagi tugas praktikum mata kuliah riset, bahan presentasi minggu ini juga belum ngerjain, yahhh begadanglagi malem ini .. “ Sans brouhh.. lo ngga sendirian.

Perjalanan menjadi mahasiswa semester akhir menjadi salah satu trigger yang sangat membagongkan, bagaimana tidak? Di satu sisi dalam dunia perkampusan diri ini dipacu untuk terus memikirkan hal-hal layaknya mahasiswa semester akhir pada umumnya yang sibuk untuk menyelesaikan study dan mempersiapkan kelulusan. Pie carane ben nang lulus iki?

Selain itu, kita sebagai mahasiswa yang disebut-sebut sebagai kebanggaan keluarga di rumah, ketika mudik atau pulkam (pulang kampung) juga memiliki beban tersendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Entar jadi kayak mbak/mas iku loh dek, keren, iso kuliah ning kampus negeri”, membuat kita makin overthinking dalam menghadapi detik-detik menjadi mahasiswa semester akhir. Belum lagi pertanyaan keluarga terdekat atau tetangga yang kerap menguji mental, “Udah kurang berapa semester dek? dapet berapa tahun sudah kuliahe? ntar kalau ambil jurusan pertanian kerjanya di sawah ya?” bener-bener rasanya melelahkan ya bund kalau memikirkan semua itu tanpa dibarengi tindakan nyata.

Berada pada perjalanan mahasiswa semester akhir tentu mulai banyak yang terpacu untuk mengerjakan atau bahkan menyelesaikan draft proposal skripsi, khususnya buat golongan mahasiswa ambisius. Tapi gimana ya, kalau disaat-saat yang harusnya fokus ngerjain tugas akhir berupa proposal tersebut, kita malah diriwehkan lagi dengan tugas-tugas peronline-an, entah untuk mata kuliah tatap muka maupun praktikum.

Belum lagi pada setiap kelas matkul (re: mata kuliah) yang berbeda, dosen pengajarnya juga memiliki karakteristik yang berbeda. Mungkin ada dosen yang tipenya suka banget ngasih tugas, ada yang cuma presensi aja yahh, atau mungkin tipe santuy dan tentu masih banyak lagi. Jadi ngga heran sii.. kalau pada jenis matkul yang sama, lalu pada kelas dengan dosen yang berbeda tugasnya juga jadi ngga seimbang. Ada yang terlampau banyak atau mungkin jarang wkwk.

Aku sedikit kecewa karena itu tadi tugas-tugas yang diberikan itu bobotnya itu nggak sama setiap mahasiswa”, ungkap Winari, salah satu mahasiswa Agroteknologi Universitas Jember angkatan 2018. Tidak hanya bobot tugas dari tiap kelas matkul yang berbeda, terkadang juga ada dosen yang karena saking sibuknya akhirnya melakukan pergantian jadwal pada jam-jam yang rawan buat tidur wawww. “Nggabisa serta merta langsung mengganti jadwal dan itu kadang jadwalnya malem gitu loh, diganti sampe jam 11 malem dan jam 11 malem tuh udah waktunya istirahat, itu sudah diluar jadwal gitu loh”, imbuhnya.

Ayu Fitri yang merupakan salah satu mahasiswa Ilmu Tanah Universitas Jember angkatan 2018 menuturkan bahwa terkadang pada beberapa matkul secara bersamaan terdapat tugas sehingga terkesan numpuk. Kendala terjadi ketika dalam tugas tersebut memerlukan laptop dengan kapasitas yang besar, sedangkan kapasitas perangkat tersebut tidak dimiliki oleh mahasiswa yang bersangkutan sehingga secara tidak langsung diperlukan suatu koordinasi bersama dengan teman yang lain untuk saling membantu.

Ngga sampai di situ, masih ada permasalahan lain, “Banyak tugas suruh nanem. Beneran banget ini agak beban. Kita nanem, nyari benih dll. Kayak jadi petani beneran tapi ya beberapa gabisa maksimal karena berbagai keterbatasan,” tutur Ana, salah satu mahasiswa Agronomi Universita Jember angkatan 2018. Jadi mahasiswa pertanian emang harus siap ketika ngejalani yang namanya praktikum secara langsung ke lahan, kalau ngga gitu, gimana caranya kita bisa tahu praktik-praktik pertanian? tapi tentunya juga perlu acuan prosedur praktikum yang jelas, yang bisa dipahami mahasiswa.“Tugasnya banyak tapi ngga jelas. Iya bener kita udah bisa mikir sendiri, tapi kalau gaada teknis yang jelas kan ya susah”, tambahnya.

Emang sih, dunia peronline-an sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2020, dan tentunya setiap mahasiswa sudah mulai terbiasa ketika memang tugas mulai ngantri di meja satu persatu. Merengek minta dikerjakan. Tapi gimana yahh.. kita hanya manusia biasa yang bisa punya rasa capek dan sesekali butuh holiday tipis-tipis. Satu momen andalan ketika bener-bener pusing banget sama tugas khususnya bagi para ciwi-ciwi, yaitu nangis atau bahkan sampe memaki-maki tugas, tapi tetep sambil dikerjain ya huhuu ☹.

Namanya mahasiswa juga pasti punya karakter beragam dalam setiap menghadapi tugas yang ada. Ada yang tipe santuy, ada yang tipe ambis, atau mungkin tipe b aja setiap kali tugas numpuk, karena memang sudah terbisa jadi yang penting mah dikerjain sebisanya aja dah. Terlepas dari bagaimanapun tipe mahasiswa, kalau menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), mahasiswa ialah seseorang yang tengah belajar di suatu perguruan tinggi dan memegang status pendidikan tertinggi diantara yang lain. Memang untuk meraih gelar sarjana, seorang mahasiswa memiliki peran utama untuk menyelesaikan beberapa jenjang semester. Ngga bisa dipungkiri juga kalo disetiap semesternya ada ujian hidup melalui beragam tugas tatap muka dan juga praktikum. Namun realitanya, peran sebagai mahasiswa bukan melulu soal tugas di dalam perkampusan yang menyangkut tatap muka maupun praktikum, melainkan di luar itu mungkin ada tugas lain bagi mahasiswa yang join proyek dari dosen, tugas ketika terjun dalam dunia organisasi, tugas-tugas pengabdian bagi yang mengabdi di desa, atau tugas lainnya yang mungkin ngga banyak disadari.

Kalau dipikir-pikir lebih jauh sihh.. sebenernya tuh seberat apapun tugas yang dateng ke meja belajar, setiap mahasiswa pasti bisa nyelesaiin itu. Cuman kadang dihantui oleh sikap deadliner atau yang suka ngandelin mood ketika ngerjain tugas, atau karena emang bener-bener sibuk sama kegiatan lain yang dinilainya lebih urgent atau lebih asik. Jadi ya emang kudu pinter-pinter manage waktu biar ngga ngalamin yang namanya keteteran perihal tugas yang selalu hadir menemani.

Tentu banyak cara yang bisa dilakukan agar bisa tetep tegar menghadapi kerasnya perjuangan menuju mahasiswa semester akhir. Saya yakin bahwa setiap mahasiswa pasti punya caranya sendiri untuk mengatasi setiap rasa penat, jenuh dan bahkan capek ngga ada habisnya. Slogan “mending gua nikah aja deh” juga bukanlah solusi yang tepat. Kalau berkaca dari pengalaman Analisa Widyaningrum seorang psikolog yang akhirnya mampu menjadi lulusan mahasiswa terbaik dari Fakultas Psikologi UGM (Universitas Gadjah Mada) pada masanya, lakukan yang tebaik untuk orang tuamu. Seberat apapun yang kamu jalani hari ini sebagai seorang mahasiswa, jangan lupa tuntaskan tanggungjawabmu pada orangtuamu. Lelah gakpapa, capek gakpapa, berhenti dulu sebentar, kalau perlu holiday ya pergi sebentar, ntar jalan lagi ya.. karna bagaimanapun, sudah menjadi pilihan kita untuk membawa nama mahasiswa, jadi mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai[].

Penulis dan Reporter : Siti Aisyah

Editor : Nandita Rani N dan Ahlan Anwari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *