Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Nama Tengah Bangsa Indonesia

3 min read

Rasisme menurut KBBI adalah suatu tindakan pembeda perlakuan kepada orang lain berdasarkan ciri fisik, ras, suku, dan lain sebagainya. Tindakan ini merujuk kepada sikap diskriminasi kepada sekelompok orang yang kehadirannya selalu dirugikan, hal ini dilakukan oleh kaum mayoritas dalam suatu wilayah/negara. Kasus rasisme ini rasanya sudah menjadi masalah yang memborok di Indonesia sejak dulu, mulai dari kasus pelarangan kegiatan ibadah sampai kerusuhan tahun 1998 dan yang paling baru adalah kasus rasisme terhadap warga Papua di Surabaya. Pemerintah bukannya menutup mata, mulai dari mengajarkan pendidikan kewarganegaraan sampai pendidikan Pancasila sudah diterapkan sejak sekolah dasar, namun paham-paham Pancasila perlahan mulai tergerus oleh majelis ilmu Instagram yang dengan segala kemudahannya kita bisa mengakses dan menyebarkan berita-berita baru, yang bahkan bisa membuat satu negara mengalami kekacauan.

Berdasarkan liputan CNN Indonesia tentang pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, juru bicara FRI-WP (Front Rakyat Indonesia untuk West Papua) menjelaskan bahwa saat kejadian pengepungan terdapat beberapa aparat TNI, Polri, dan Ormas yang juga turut menyerang asrama tersebut. Surya selaku jubir FRI-WP menyayangkan pihak aparat yang tidak melakukan investigasi secara mendalam terhadap isu perusakan bendera oleh oknum mahasiswa papua. Pihak aparat juga menyerang dengan gas air mata yang menyebabkan mahasiswa Papua di dalam asrama tidak berani keluar hingga malam karena dijaga dari luar, selain itu pihak aparat juga membiarkan ormas turut serta dalam pengepungan tersebut dan juga meneriakkan kata-kata rasisme kepada mahasiswa Papua yang ada di asrama. Merujuk pasal 103 KUHP Militer, dalam menyelesaikan masalah seharusnya pihak TNI mengedepankan komunikasi sosial. Hal ini bertolak belakang dengan tindak kejadian saat pengepungan dan juga diperkuat dengan adanya video amatir yang menunjukkan anggota TNI berteriak dan juga memaki mahasiswa yang ada di dalam asrama. Bukankah TNI adalah garda terdepan pelindung keutuhan NKRI? atau mereka yang awalnya mendaftar TNI hanya menginginkan seragam dan jabatan? berapa kira-kira nilai pendidikan kewarganegaraan para oknum anggota TNI tersebut saat masih mengenyam bangku pendidikan, ya?.

Berbicara mengenai papua, konotasi yang keluar di benak saya menurut pengalaman pribadi saya adalah terbelakang dan gelap. Gelap disini diartikan dengan terpencilnya beberapa daerah-daerah di Papua yang bahkan belum terjamah listrik, sedangkan makna terbelakang berdasarkan dari beberapa pengalaman di kehidupan sekolah maupun kuliah yang mana beberapa teman saya menganggap orang papua jauh dari “peradaban” normal di pulau Jawa. Kasus rasisme rakyat Papua nampaknya adalah sebuah penyakit akut di Indonesia yang bahkan media di Papua sampai tahun 2016 belum mendapatkan ruang kebebasan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya terutama saat meliput isu sosial dan politik. Salah satu contoh kasus penyempitan gerak pers di Papua dikutip dari berita nasional.tempo.co adalah adanya pemblokiran media online suarapapua.com. Hal ini adalah ancaman nyata terhadap kebebasan pers yang datang dari pemerintah Indonesia.

Sudah bukan waktunya kita masih mempermasalahkan warna kulit atau suku dari saudara se-tanah air kita. Menjadi negara maju adalah perkara mudah apabila kita bergandengan bersama menempuh jalan yang dinamakan kesatuan. Kata tertinggal bukanlah milik suatu wilayah tertentu yang entah dengan parameter apa kita sering menyebut suatu wilayah masih dinilai lebih tertinggal dari wilayah lain. Selama wilayah tersebut masih ada di peta Indonesia, itu mengartikan bahwa kita semua masih dalam kondisi yang sama atas nama saudara satu tanah air. Bangun, berjejaring, dan saling menguatkan satu sama lain adalah tugas bersama sebagai rakyat Indonesia menuju kemajuan negara.

Rasis bukanlah nama tengah kita sebagai bangsa, hidup Pancasila dengan segala ke-Bhinneka Tunggal Ika-nya.[]

Oleh: Muhammad Gazza Daffa Viali

Editor: Famnun Alaina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *