Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

Badan Eksekutif Mahasiswa, Mereka Butuh Bantuanmu

4 min read

Melalui handphone kentang yang saya punya, ada pesan yang masuk di salah satu Group Whatsapp, pesan tersebut berupa dokumen dengan format PDF berisikan Press Release Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F). Dalam fikiran saya, wah ada perang saudara apa lagi yang terjadi hari ini.

            Press release tersebut berisikan sebuah pernyataan sikap yang dibuat oleh 13 BEM-F Universitas Jember pada tanggal 27 April 2020. Mereka bersepakat untuk membentuk sebuah aliansi ninja shinobi dari semua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas mengenai advokasi kebijakan Universitas Jember selama masa pandemi Covid-19.

Pernyataan sikap tersebut merupakan bentuk rasa tidak puas BEM-F atas kinerja BEM Universitas Jember (BEM-U) selama pandemi Covid-19 yang terkesan tidak sesuai dengan advokasi sesungguhnya, mereka (BEM-F) juga menganggap kinerja BEM-U terkesan lamban dan tidak ada tindakan lebih lanjut terkait tuntutan dari mahasiswa. Sekedar informasi nih bentuk aliansi BEM-F seperti ini tidak terjadi hanya sekali ini saja, mereka gemar membentuk aliansi-aliansi serupa sebagai bentuk rasa tidak sepakat dengan BEM-U, seperti  aliansi BEM-F UNEJ tanggal 10 Desember 2019 tentang penolakan aksi turun ke jalan bersama BEM-U. Press realese tersebut disepakati oleh 9 BEMF di UNEJ. Loh kok beda-beda? 5 bulan yang lalu yang gemar beraliansi cuman 9 sekarang nambah jadi 13, lagi ngadain seleksi ujian chunin kali jadi belum join aliansi~

Kendati demikian Ketua BEM Fakultas Pertanian Universitas Jember Ardhyan Irwansyah Putra menjelaskan latar belakang tujuan dari adanya bentuk aliansi BEM-F saat ini adalah menghimpun setiap fakultas yang memiliki BEM dalam merumuskan beberapa topik permasalahan birokrasi dan kemahasiswaan. “Kritik yang kami sampaikan sebagai aliansi BEM-F didasari oleh koordinasi dan komunikasi yang belum cukup baik antara BEM-F dengan BEM-U”, jelas Ardhy

Permasalahan antara keduanyapun semakin terlihat, yaitu koordinasi dan komunikasi yang belum cukup baik antara BEM-F dengan BEM-U. Kedua lembaga tersebut memang memiliki daerah otonom masing-masing, namun di dalam mengambil sebuah tindakan yang mencangkup masa depan seluruh mahasiswa di Universitas Jember, tentu memembutuhkan aspirasi mahasiswa di setiap fakultas dan tentu diperlukannya koordinasi dengan BEM-F sebagai garda depan hokage pemimpin mahasiswa di setiap fakultas. Hal ini juga sudah ada di Undang Undang Ikatan Keluarga Mahasiswa Pasal 12 lurd¸ bunyinya “Berkoordinasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat universitas dan Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat fakultas”.

Ardhy juga mengaku belum pernah mendapat informasi mengenai peraturan garis hubungan antara BEM-U dengan BEM-F. “BEM-U sendiri memiliki upaya baik dengan mengumpulkan setiap BEM-F dengan membentuk WA group, akan tetapi jika tidak disosialisasikan terlebih dahulu mengenai garis hubungan tersebut kesetiap teman-teman fakultas sepertinya akan tetap menimbulkan bias”Ardhy juga menerangkan bahwa tidak ada bentuk sublimasi BEM-U, sehingga tidak terjalinnya kedekatan emosional dengan BEM-F. Ia juga menjelaskan “Sebetulnya kami mengharapkan betul sublimasi tersebut ada di setiap fakultas akan tetapi kami belum melihat adanya langkah konkrit untuk merealisasikan hal tersebut” Kode keras bor minta dibangun kedekatan emosionalnya sapa tau saking emosinya bisa sampe mundur jadi admin medsos, loh loh gak nyambung wqwq~

            Menanggapi pernyataan sikap BEM-F tanggal 27 April 2020, Rizal selaku Wakil Ketua BEM Universitas Jember saat ini, pihaknya menerima hal tersebut sebagai bentuk respon penilaian terkait kerja advokasi serta menerimanya sebagai otokritik. Ia juga menganggap hal tersebut adalah gerakan bottom up yang sifatnya sama yaitu, mengadvokasi kebijakan.  “Dikatakan lamban karena proses advokasi memang dalam proses pengawalan dan belum selesai, tapi bukan tanpa hasil. Hasil terus kami godok dan kembali diadvokasi dalam upaya memenuhi apa yang menjadi keresahan mahasiswa”, terang Rizal

            Rizal juga menjelaskan pihaknya telah melakukan konsolidasi bersama teman-teman BEM-F “Tepatnya pada hari rabu malam kemarin (29 April 2020) kami melakukan konsolidasi bersama teman-teman BEM-F, dalam rangka merespon catatan kritis aliansi BEM-F, harapannya adalah ada hal yang bisa disatukan, ada hal yang bisa disinergisikan untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut”. Pihaknya juga telah melakukan klarifikasi dan permohonan maaf atas segala kekurangan kepada seluruh peserta forum pada waktu itu.

            Rizal juga menegaskan “Cuma yang harus dipahami bersama, kerja advokasi BEM-U itu bukanlah penentu kebijakan ataupun yang memutuskan kebijakan kampus. Gerakan kami adalah dalam bentuk mengadvokasi, menganalisis, dan menuntut kebijakan agar terealisasikan berdasarkan kebutuhan mahasiswa”, ia juga berharap BEM-U dan BEM-F dapat berjalan sinergis dan memiliki satu visi yang sama atas nama mahasiswa.

            “Harapan dari kami tentu adanya sosialisasi mengenai garis hubungan BEM-F dengan BEM-U, sublimasi mengenai koordinasi dan komunikasi dalam menjalankan organisasi, dan hubungan yang terintegrasi antara fakultas dengan teman-teman di universitas”, pungkas Ardhy.

            Jadi gini wahai kaum rebahan yang tiap hari sudah tidak dapat jatah cuan dari yayasan orang tua, sayapun juga hehe. Teman-teman kita dari BEM-F dan BEM-U ini sudah bekerja meskipun tidak terlihat, saking ga terlihatnya sampe dikira ga kerja. Jangan hanya hate speech aja yang kalian lontarkan di medsos, udah ada satu korbanya, Reemar Tiktok. Tidak ada larangan bagi anda untuk berspekulasi adanya pihak ketiga yang menunggangi BEM-F ataupun BEM-U ataupun medsosnya sekalipun. Kerja advokasi itu berat lur. Anda mau tidak pulang ke kampung halaman hanya untuk mondar mandir bertemu birokrat kampus untuk mendapat kejelasan informasi, atau anda mau ikut rapat konsolidasinya? Sini balik ke Jember kalau anda mau mengenyam predikat ODP (Ora Duwe Penggawean). Selamat Berpuasa~

Penulis : Habibillah Putra Lookmawan

Editor : Erlita Diah Salsahbila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *