Fri. Sep 30th, 2022

Plantarum Online

Tahu, Tanggap, Tandang

NARASI PEMBENARAN KAUM-KAUM OPEN MINDED

3 min read

Di era milenial saat ini, banyak istilah-istilah baru baik dari Bahasa Indonesia bahkan dengan menggunakan Bahasa asing. Salah satu istilah yang sering kita dengar yaitu Open Minded. Misalnya pada diri seseorang memiliki pemikiran yang dinilai terbuka terhadap suatu informasi, argumen, atau suatu gagasan ide. Apabila seseorang tersebut dianggap berpikiran terbuka, pada umumnya dianggap lebih kritis dan rasional terhadap sekitarnya. Seseorang yang juga dianggap Open Minded dalam mempertimbangkan sesuatu tidak hanya mempertimbangkannya dari satu sudut pandang atau perspektif satu arah saja. Sederhananya, seseorang sadar dengan apa yang ia lakukan atau pilihan mereka kemungkinan menjadi benar, namun tidak menutup kemungkinan untuk salah. Dengan sikap yang seperti itu, dianggap dapat membantu dalam mengambil keputusan yang tegas dengan mempertimbangkan kedua perspektif yang berbeda dengan matang dan rasional. Manfaat dari memiliki pola pikir Open Minded yaitu:

  1. Dapat memperoleh wawasan dan pengalam yang baru
  2. Meningkatakan rasa kepercayaan diri atau optimis
  3. Memperkuat mental

Dilansir dari Very Well Mind, Psikolog Jean Piaget mengembangkan suatu ide atau pengetahuan yang biasa disebut dengan skema, “Ketika menemukan sebuah informasi baru, dalam proses mental cenderung ingin mengurutkannya menjadi suatu skema yang dikenal dengan asimilasi”. Namun, masih banyak hal baru yang perlu untuk dipelajari lagi karena tidak cukup hanya dengan perspektif dari kita sendiri. Perlu adanya pandangan dari perpektif lain antara pemahaman diri sendiri dengan faktor lain atau biasa disebut akomodasi. Menurut komunikator sains dan kepribadian televisi, Bill Nye, mengungkapkan “bahwa semua orang yang pernah ditemui tahu sesuatu yang tidak kita ketahui”. Tanpa pemikiran yang terbuka, maka tidak tidak pernah memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan perpektif dan pengelaman lainnya.

Tidak hanya berhenti begitu saja, kemudian muncul kembali istilah baru yaitu Close Minded yang artinya pemikiran tertutup. Bertolak belakang dengan Open Minded, seseorang yang dianggap cenderung lebih nyaman dengan kebiasaan lamanya atau susah untuk mengembangan ide baru itulah yang disebut dengan Close Minded. Tapi tidak selamanya orang yang dianggap Open Minded selalu bermakna benar, justru dapat membawa mindset atau pola pikir yang salah, tergantung cara orang tersebut memaknainya. Semakin berkembangnya pemikiran yang terbuka, maka juga semakin berkembang juga pemikiran yang berlebihan dalam memaknai dan membenarkan suatu hal baru yang mungkin saja dianggap tabu oleh masyarakat. Dalih masyrakat saat ini, semakin zaman berkembang maka pemikiran tidak boleh dikekang oleh apa pun. Namun, kita sebagai warga suatu negara dengan budaya dan adat istiadat yang beragam dengan memiliki aturan-aturan atau batasan-batasan dalam berperilaku atau berkehidupan dalam bermasyarakat, masih banyak yang melakukan menyimpangan. Menjadi kaum Open Minded cukup tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, maksudnya tidak mencela dan menelan mentah-mentah ide, arguman, atau informasi yang diperoleh, tetapi perlu adanya pertimbangan dengan melihat dari perpektif lain. Memaksakan logika untuk benar hanya akan menimbulkan konflik baru.

Seseorang yang mengklaim dirinya sebagai orang yang Open Minded biasanya suka memberikan pencerahan terhadap sesuatu isu, opini, atau yang lainnya yang dianggap bertentangan dengan prinsipnya. Menjadi Open Minded berarti memiliki prinsip serta melihat secara objektif terhadap suatu permasalahan. Namun, masih ada seseorang yang mengklaim dirinya sebangai Open Minded tapi cenderung menganggap hal yang berbeda dari prinsip atau pemikiran mereka merupakan suatu kekeliruan. Misalnya saja, bagi kalangan perempuan di mana ia telah meraih pendidikannya yang cukup tinggi namun untuk masa depannya ia memilih untuk menjadi seorang ibu rumas tangga. Tentu banyak orang yang berfikir bahwa itu adalah pilihan yang salah dan bukannya malah mebuat perempuan itu bahagia karena dianggap telah menyia-nyiakan kesempatannya. Selain itu, dalam sebuah artikel yang dilansir di detik.com yang diunggah pada 2020 yang lalu. Di mana dalam artikel tersebut Menteri Agama, Fachrul Razi, mengungkapkan bahwa perlu sikap moderat dan tidak bersikat ekstrem. Menurutnya, setiap orang memiliki hak untuk menganggap agama mereka yang terpercaya, baik, dan benar. Tetapi juga perlu adanya perpektif lain dari sudut pandang orang lain bahwa agama mereka lebih baik dan benar. Beliau juga menambahkan bahwa setiap agama pasti mengajarkan hal yang baik, termasuk untuk persatuan dan kesatuan. Dari salah satu contoh kasus tersebut, dapat diketahui bahwa tidak semua orang yang Open Minded selalu berarti benar.

Jika diamati dengan lebih teliti, secara naluriah dalam diri setiap orang pasti akan selalu berusaha untuk membenarkan asumsi, opini, perspektif pribadi mereka dengan memperkuat bukti dan memperjelas tujuan untuk mendukung argument pribadi. Seperti yang pernah diungkapkan Pramoedya Ananta Toer “Beberapa orang bersembunyi di balik glorifikasi kaum Open Minded karena terlalu malah atau tidak mampu untuk bersikap adil sejak dari dalam pikiran.”

Penulis : Ike Ratna S.

Editor : Diana Anggraini Puspitaningrum

Ilustrator : M. ‘Ubaidillah I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *